fbpx

Mengenal Information Overload dan Information Addiction

Sebuah kisah dipagi hari.

Bangun tidur cek handphone, buka timeline Twitter, Instagram, atau Facebook.

Niatnya sih di instagram scroll scroll santai, tapi tiba-tiba ada akun selebgram yang lagi kontroversial.

Pindah ke timeline Twitter, karena ada notifikasi mention. Buka tab mention, lalu balas.

Pindah ke home ada akun berita ngasih update terbaru seputar informasi saham dan tentang resesi ekonomi yang santer bakal terjadi ke Indonesia.

Tiba-tiba ikutan pusing, padahal gapunya saham atau investasi apapun di pasar modal.

Ditambah lagi, ada thread di Twitter yang nongol di timeline soal intoleransi yang di Indonesia seribg banget terjadi. Makin pusing. Tiba-tiba perut mules.

Akhirnya pindah ke kamar mandi karena hari makin siang. Duduk dulu di WC.

“Biar produktif sambil ngecek email ah”

Balesin email yang bisa dibales saat itu, lalu buka tab promosi / updates yang ada di email.

Isinya macem-macem. Tiba tiba ada notif Whatsapp dari grup keluarga. Isinya : tips sehat dengan terapi air putih.

Ini semua terjadi mungkin kurang dari setengah jam. Dan dalam waktu sesingkat itu sudah berapa banyak informasi yang kita konsumsi?

Ini bahkan belum setengah hari sudah sebanyak itu informasi yang harus kita terima.

Apa itu Information Overload

Di Internet, kita bisa memperoleh berbagai informasi. Dari informasi penting sampe yang tidak perlu sama sekali.

Mulai dari cara berinvestasi sampai bagaimana cara beternak lele menggunakan ember. Semua ada.

Sebuah penelitian dari Speier et al mendefinisikan Information Overload sebagai:

THE INFLUENCE OF TASK INTERRUPTION ON INDIVIDUAL DECISION MAKING:
AN INFORMATION OVERLOAD PERSPECTIVE

Information Addiction

Sebenarnya, ketersediaan informasi di Internet selalu bisa dianggap sebagai sebuah keuntungan.

Sayangnya tidak semua orang memiliki kapasitas untuk memfilter informasi yang masuk. Filter ini artinya bukan hanya soal membedakan mana informasi “valid” atau “tidak valid”.

Namu, filter tersebut diperlukan sejak pertama kali informasi yang diterima oleh indera kita, biasanya mata (melihata) atau telinga (mendengar).

“Kira-kira kita perlu informasi ini atau engga ya?”

Apesnya kita sering kali merasa perlu untuk mengkonsumsi semua informasi yang ada. Ketika ada berita tentang sesuatu, kita langsung baca tanpa peduli sebenarnya kita butuh atau tidak.

Kadang yang dijadikan alibi adalah:

  • “Untuk pengetahuan tidak ada salahnya” , atau
  • “Siapa tau nanti butuh”.

Istilah diatas biasa dikenal dengan Information Addiction, atau kecanduan akan informasi.

AOL pernah melakukan sebuah penelitian tentang Information Addiction ini. Dan ada beberapa temuan yang menurut saya cukup menarik.

Survey ini dilakukan pada tahun 2008 yang melibatkan kurang lebih 4.000 pengguna email di US. Beberapa hasil temuannya adalah:

Hasil Survey AOL
  • 46% orang merasa kecanduan untuk terus mengecek email.
  • Hampir 60% orang mengecek emailnya di kamar mandi.
  • 15% mengeceknya di Gereja.
  • Dan 11% mengaku sering mengecek email diam-diam dari pasangan maupun anggota keluarga lainnya.
  • Yang menariknya, penelitian diatas menggunakan “email” sebagai objek yang diteliti, karena pada 2008 mungkin social media belum ‘semenarik’ yang terjadi saat ini.

    Jika email yang kita anggap membosankan saja bisa sebesar itu dampaknya, bagaimana halnya dengan social media?

    Mungkin jauh lebih tinggi tingkat adiksinya.

    Dan ini bisa saja terjadi pada saya ataupun Anda. Kecenderungan untuk merasa selalu terus update kondisi terkini suka tidak suka akan menimbulkan masalah.

    Salah satunya adalah makin tidak jelasnya batasan antara waktu bekerja dan waktu untuk kehidupan pribadi.

    Dampak Information Overload dan Addiction

    Sejak pandemi Covid-19 ini berlangsung, coba hitung sudah berapa banyak Webinar yang kita coba untuk ikuti?

    Coba pikirkan lagi, seberapa banyak yang benar-benar Anda bisa langsung praktekan? Ataukah jangan-jangan sebenarnya itu juga bentuk dari Information Addiction yang terjadi pada Anda?

    Mungkin Anda hanya suka untuk “mengkoleksi informasi”, tanpa tau sebenarnya Anda benar-benar butuh atau tidak.

    Ada sebuah gagasan yang unik yang baru saja saya baca bahwa pandemi Covid-19 ini memicu “pandemi lain” yang disebut Webinar Fatigue.

    Webinar fatigue sederhananya adalah kelelahan yang terjadi karena terlalu sering mengikuti webinar. Menurut saya ini agak menggelitik, bisa ya orang kecapean gara-gara cuma diam dan nonton Webinar.

    Namun saya cukup setuju.

    Selama pandemi, coba hitung berapa invitation untuk mengikuti webinar yang muncul di social media, chat atau email Anda?

    Survey lain yang melibatkan 2.300 karyawan Intel menyebutkan bahwa kurang lebih 1/3 dari email yang mereka terima adalah email tidak perlu.

    Angka diatas jadi terasa mengerikan karena rata-rata karyawan Intel membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dalam sehari untuk menghandle email saja.

    Rata-rata karyawan Intel menerima hingga 300 email dalam seminggu.

    Nathan Zeldes, seorang mantan senior engineer di Intel mengatakan bahwa banyak perusahaan yang “denial” terhadap masalah ini.

    Walaupun sudah jelas ini adalah masalah nyata, orang-orang sulit meninggalkan kebiasaan ini karena semakin banyak informasi “dianggap” selalu lebih baik.

    Fakta-fakta menarik berhubungan dengan Information Addiction yang dirangkum oleh Harvard Business Review :

    Hasil Survey yang dirangkum Harvard Business Review
  • Dering telepon dan notifikasi email menurunkan tingkat IQ sebesar 10 poin
  • Pekerja yang memiliki tingkat edukasi tinggi rata-rata menghabiskan waktu sebesar 20 jam dalam seminggu untuk mengurus email saja.
  • Information overload di US menelan biaya sebesar 900 juta dollar per tahun
  • 60% pengguna komputer mengecek email di kamar mandi
  • Pekerja yang memiliki tingkat edukasi tinggi rata-rata membuka email 50 hingga 100 kali dalam sehari
  • 85% pengguna komputer merasa membutuhkan untuk membawa laptop mereka saat liburan.
  • Kendalikan yang Dapat Kita Kendalikan

    Information overload bukanlah terjadi atas kendali kita. Mungkin itu adalah dampak dari beberapa sebab sekaligus.

    Namun Information Addiction jauh lebih bisa kita kontrol.

    Salah satu caranya adalah sebisa mungkin selesaikan masalah dengan konsumsi informasi seminimal mungkin. Tentunya disesuaikan dengan urgensi tiap masalah juga ya.

    Lakukan pertanyaan sederhana tiap melakukan sesuatu: “Jika saya TIDAK melakukan hal ini, apa yang akan terjadi / memperburuk hidup saya?”

    Salah satu orang terkaya di dunia Mark Zuckerberg, founder Facebook, konon hanya memiliki satu jenis warna untuk kaosnya.

    Tujuannya sederhana, agar dia tidak perlu repot-repot untuk berpikir “hari ini mau pake baju apa?”

    Lha wong pilihan baju yang dia punya juga cuma itu aja, hahaha. Kadang pilihan yang simple dan sederhana justru lebih bagus daripada yang kompleks.

    Terimakasih


    Referensi :

    Leave a Comment