fbpx

Survive adalah Koentji

Kalau berbicara orang cerdas, bayangan yang sering keluar adalah orang dengan kacamata super tebal, kutu buku, dan indikator lain yang mencerminkan intelektualitas

Sedangkan jika berbicara seniman, bayangan kita umumnya akan menampilkan orang dengan tampilan nyentrik, ekspresif, dan cenderung tidak mau diatur.

Kesannya bertolak belakang, tapi ini seharusnya selaras.

Di Amerika, ada sebuah tes standar yang diterapkan untuk masuk ke perguruan tinggi, biasa disebut dengan SAT test. Penilaian SAT score mulai dari 0 hingga 1.600 poin.

Dan tiap tahunnya rata-rata terdapat 600 orang dengan kategori nilai sangat tinggi (mendekati 1600 poin). Dan yang mendapat poin diatas 1000 tentu jauh lebih banyak.

Jika hanya bermodal intelektualitas, bagaimana seseorang cerdas bisa terlihat diantara banyak sekali orang cerdas lainnya?

Disinilah dibutuhkan fleksibelitas. Jika hanya mengandalkan intelektualitas, biasanya cenderung kaku. Segala sesuatu seolah “harus begitu”.

Nyatanya, jika tidak sesuai dengan teori yang ada pun sering kali tidak masalah.

Fleksibilitas adalah sebuah kemampuan untuk bisa bertahan hidup, survive, atau apapun bahasannya.

Namun jika terlalu fleksibel, sering kali malah jadi kehilangan arah.

Kecermatan untuk tetap berada di jalur, namun mengorbankan sedikit hal agar bisa diterima adalah kuncinya.

  • si A suka belajar
  • si B suka bercanda
  • Kalau saja si C memiliki kemampuan yang sama dengan si A, namun pandai untuk berkomunikasi seperti si B, maka bisa jadi dia apa yang dia sampaikan
  • akan lebih mudah dicerna dan diterima orang lain.

Fleksibiltas dan Intelektualitas adalah beberapa cara untuk tetap survive. Jangan mengkerdilkan makna intelektualitas hanya dari pendidikan di bangku sekolah.

Banyak jalur non-sekolah yang bisa menjadi sarana untuk mengetahui sebuah ilmu. Terlebih di era teknologi seperti sekarang.

Saya adalah orang yang sangat mengagumi orang yang bisa survive.

Kemampuan untuk survive sering sekali disepelekan. Dan seringnya survive hanya disematkan kepada orang yang kondisinya mungkin kurang beruntung.

Padahal kenyataannya, orang tampan, kaya, pintar, jenius juga punya masalah mereka sendiri. Sering kali ada yang ‘menyerah’, dengan bunuh diri misalnya.

Kamu tidak harus pintar, ganteng, pekerja keras, lucu, pintar komunikasi, banyaka teman, atau apapun.

Yang penting bisa bertahan, itu sudah hebat.

Leave a Comment

eighteen + four =