fbpx

Contoh Berpikir Kreatif – Bisnis ini Hanya Bermula dari Review Produk

Berpikir Kreatif selama ini laris dijadikan topik dan dikaitkan dengan kewirausahaan. Sayangnya selama ini kita masih kekurangan contoh berpikir kreatif itu sendiri, terutama implementasinya di dunia usaha.

Jika mendengar kata kreatif, umumnya pikiran kita akan membayangkan sesuatu berbau seni, kerajinan, atau membuat sesuatu yang baru.

Kalau saya sendiri kurang setuju jika kreatif selalu dikaitkan dengan harus membuat suatu yang baru.

Eits, jangan disalah artikan. Membuat sesuatu yang baru itu memang kreatif. Tapi mampu menjual sesuatu yang awalnya dianggap tidak punya nilai menurut saya juga sebuah kreatifitas.

Brand ini memulai dari Review Produk

Coba cari di Google keyword ini : Glow Recipe.

Kemungkinan besar Anda akan menemukan sebuah brand kosmetik asal Amerika dengan tampilan yang sangat ‘anak muda’ sekali.

Pada 2014, Founder Glow Recipe, Sarah Lee dan Christine Chang , memutuskan untuk membangun Awareness kosmetik Korea (K-beauty) ke Amerika.

Tampilan website Glow Recipe Agustus 2021

Pada saat itu orang Amerika belum terlalu Aware dengan kosmetik yang berasal dari Korea. Beberapa orang bahkan masih memiliki stigma bahwa produk yang berasal dari Asia itu buruk.

Namun disisi lain Sarah dan Christine melihat potensi industri kosmetik Amerika sangat besar. Saat ini saja industry kecantikan Amerika bernilai lebih dari 95 Milyar Dollar (kalau dikonversi menjadi rupiah, tentu angkanya akan sulit dibaca haha)

Namun mereka sadar pasar Amerika memiliki persaingan yang cukup berat. Akan membutuhkan banyak sumber daya dan modal untuk terjun ke industri ini.

Tampilan saat Glow Recipe saat pertama kali

Akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan situs Glow Recipe, dimana di situs itu mereka mengkurasi produk K-beauty yang sudah ada di pasaran.

Mereka juga mengajak kerjasama brand K-beauty yang sudah ada untuk bergabung dengan mereka perluas pasar mereka.

Singkat cerita apa yang mereka lakukan cukup berhasil. Hingga pada tahun 2017 mereka melakukan pivot (perubahan model bisnis). Merek akhirnya mulai menjual produk mereka sendiri hingga sekarang.

Meniru beberapa hal adalah awal mula kreatifitas

Ada kecenderungan di masyarakat bahwa jika kita meniru sesuatu, sering kali di cap tidak kreatif. Padahal meniru bagi saya adalah cara tercepat untuk belajar sebuah proses.

Saat pertama kali belajar kita akan diajari oleh guru kita hal-hal yang sudah disepakati. Contoh :

  • Lawan kata lapar adalah kenyang
  • Lawan kata rajin adalah malas
  • Lawan kata senang adalah sedih

Itu adalah hal-hal yang sudah lama disepakati oleh khayalak ramai. Intinya kita dipaksa untuk ‘meniru’ terlebih dahul istilah yang sudah ada.

Nanti ketika sudah beranjak dewasa, perlahan kita akan mulai belajar hal baru. Kita akan mulai belajar bahwa lawan kata kenyang belum tentu lapar (Anda pernah merasakan kondisi tidak lapar tapi tidak kenyang, bukan ?)

Pikiran manusia akan berkembang sesuai dengan apa yang dipelajari dan dialami.

Bayangkan :

  • Anda bisa masak, meniru resep dari ibu Anda
  • Anda paham akuntansi, meniru dari soal yang diajarkan guru Anda
  • Anda paham bagaimana cara membuat aplikasi, meniru cara membuatnya di Youtube 

Rangkaian skill Anda diatas akan membuat Anda memiliki keterampilan unik seperti menciptakan Aplikasi Pencatatan Keuangan Restoran.

Tentu bisa menjadi apa Anda nantinya tergantung dari seberapa banyak dan seberapa dalam Anda memiliki rangkaian skill tersebut.

Kumpulan skill tadi akan membetuk sebuah hal unik yang bisa jadi adalah produk kreatifitas itu sendiri.

Dan mungkin saja saya tidak bisa menjadi seperti apa yang Anda bisa, karena skill dan pengalaman yang kita miliki jelas berbeda.

Pola pikir kreatif : Mulai dari hal kecil

Salah satu hal yang bisa dicontoh dari Glow Recipe menurut saya adalah mereka memulai dari hal kecil.

  • Mulailah dari yang terdekat
  • Mulailah dari yang termudah yang Anda bisa lakukan sendiri

Rata-rata orang yang belum berusaha merasa kesulitan modal. Mereka menganggap harus memiliki modal besar terlebih dahulu.

Jangan salah sangka, memiliki modal besar adalah sebuah keuntungan.

Tapi memiliki modal bukan jaminan sukses. Silakan lihat data di bank mengenai Non-performing loan (biasa disebut juga dengan kredit macet).

Salah satu penyebab kredit macet adalah seringnya orang memulai usaha dari bidang yang mereka tidak benar-benar mengerti. Mereka baru mengerti / belajar setelah rugi besar.

Di sisi lain, apa yang dilakukan Glow Recipe adalah melakukan kurasi, membuat review tentang produk K-beauty yang sesuai dengan selera mereka. 

Salah satu founder mereka bercerita disalah satu podcast milik Hubspot :

Mereka memulai dari apa yang mereka bisa kerjakan. Bukan mengeluh, bukan juga membuat plan yang sulit mereka raih.

Kumpulkan Audience, setelah itu terserah Anda mau apa …

Salah satu kunci keberhasilan lain dari Glow Recipe adalah Audience.

Mereka mengumpulkan orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan K-beauty terlebih dahulu. Lalu ketika Audiencenya cukup besar, mereka melakukan perubahan model bisnis.

Secara umum sebenarnya ini bukan teknik baru. Ini beberapa yang umum dilakukan.

Marketplace mengumpulkan orang yang suka berbelanja online

Caranya mereka menggratiskan penjual, makin banyak penjual kumpul pembeli akan makin banyak. Artinya makin banyak penjual, harga akan makin bersaing.

Jika harga bersaing / makin murah, pembeli akan datang dengan sendirinya. Jika pembeli sudah datang, itulah Audience mereka.

Setelah itu mereka bisa lakukan apapun seperti menarik komisi penjual untuk setiap transaksi, mengundang brand besar untuk join official store, atau bahkan membuat produk sendiri.

Influencer juga mengumpulkan Audience

Beberapa waktu kebelakang Arief Muhammad sempat menggegerkan dunia social media dengan “Ikoy-Ikoyan” yang dia selenggarakan.

Itu juga merupakan cara untuk lebih dekat dengan Audience-nya.

Terbukti beberapa bisnis yang dimiliki penuh oleh Arief Muhammad maupun yang berkolaborasi dengan brand lain selalu merasakan dampak dari kedekatan interaksi yang selama ini dibangun.

Audience lebih penting daripada Follower maupun Traffic

Secara sederhana Audience adalah seberapa dekat pengikut Anda mengenal Brand Anda.

Audience tidak sama dengan traffic. Dan Audience tidak sama dengan followers.

Silakan cek ada berapa banyak followers Arief Muhammad. Banyak artis yang memiliki followers lebih banyak dari Arief Muhammad, namun mungkin impactnya jauh lebih rendah.

Contoh lainnya adalah seorang Deddy Corbuzier dimana show podcastnya sering mempengaruhi anggapan publik yang sedang gaduh. Padahal follower Youtubenya mungkin masih kalah dengan Youtuber lokal lainnya.

Anda bisa mengumpulkan followers jika Anda mau. Silakan buat giveaway, followers akan datang dengan sendirinya. Tapi saat giveaway Anda habis, mereka tidak peduli lagi.

Anda bisa mendatangkan traffic untuk bisnis Anda dengan Facebook Ads atau Google Ads. Tapi saat Anda kehabisan budget, tidak ada lagi traffic yang datang.

Namun Audience, bisa datang bahkan saat Anda tidak melakukan apapun. Sayangnya untuk mulai mengumpulkan Audience dibutuhkan suatu skill yang luar biasa.

Skill ini sering dianggap remeh, dan mungkin hanya dimiliki sebagian kecil manusia di bumi. Skil tersebut bernama ….

Konsistensi.

Leave a Comment

11 − four =