fbpx

Kebiasaan 1%, Cukup untuk Membuat Kamu Lebih Baik

Lili adalah seorang ibu dengan satu anak, selain ibu rumah tangga di juga seorang karyawan di perusahaan swasta. Dia ingin memulai kebiasaan baru, namun terkendala rutinitasnya.

Sehari-hari dia merasa banyak sekali masalah yang harus diselesaikan. Mulai dari membereskan rumah yang berantakan, cuci piring, belum lagi berbagai tugas kantor yang datang tiba-tiba.

Kadang dia merasa sangat frustasi, dia merasa tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Itu yang dia rasakan.

Dia tidak memiliki waktu untuk menjalani hobby-nya, yaitu Craft Journaling. Suatu kegiatan membuat sebuah jurnal / diary dengan menggunting dan menempel materi yang diambil dari majalah, komik, atau media cetak lainnya.

Dia tau harus berubah. Tapi mulai darimana? Dia masih belum tau.

Kebiasaan Pikiran: Penjara Waktu dan Pencapaian Besar

Apa yang dirasakan Lili mungkin dirasakan semua orang saat ini: merasa tidak punya waktu luang untuk mengerjakan apa yang disukai, tidak tau harus mulai dari mana, dan merasa sudah terlalu lelah.

Padahal jika ditelisik ulang, orang seperti Lili masih sempat untuk melakukan kegiatan seperti buka Youtube, Instagram, atau sosial media lainnya. Kalau di akumulasikan mungkin dalam sehari bisa 2-3 jam.

Tapi sekali lagi, Lili tidak tahu darimana harus memulai kebiasaan baru, dan bagaimana caranya?

Quote by Marchella FP on NKCTHI

Ada kisah menarik untuk menjawab dilema seperti ini, yaitu:

“Apakah kamu bisa makan satu ekor sapi ?

Sekilas pertanyaan diatas jawabannya jelas “Tidak mungkin”, makan steak 200-300 gram saja sudah kenyang sekali, bagaimana caranya untuk menghabiskan seekor sapi yang beratnya mungkin sekitar 300-400 kilogram?

Disinilah jebakan pikiran dimulai. Dari pertanyaan diatas, tidak disebutkan seberapa lama waktu yang tersedia untuk meghabiskan seekor sapi, bukan?

Pikiran kita sendiri lah yang ‘seolah’ menentukan harus habis sekarang, saat ini, hari ini. Jika tidak bisa selesai sekarang / hari ini artinya kita gagal.

Saya tidak tau mekanisme bagaimana pikiran itu bisa datang di dalam kepala kita. Namun setiap hari banyak jebakan pikiran yang selalu muncul :

  • Harus selesai semua.
  • Harus selesai hari ini.
  • Harus diselesaikan sendiri.

Padahal sejak awal tidak ada pernyataan yang menyebutkan syarat-syarat diatas bukan? Otak kita sendiri yang membuat aturan diatas.

Dan yang lebih mencengangkan, dalam sebuah media Amerika, USA Today, menyebutkan bahwa rata-rata orang Amerika mengkonsumsi sebanyak 7.000 hewan selama hidup, yang terdiri dari 11 sapi, 27 babi, 2,400 ayam, 80 kalkun, 30 domba and 4,500 ikan.

Data tersebut mungkin tidak akan sama persis bagi orang Indonesia, namun katakanlah rata-rata orang Indonesia hanya 10% data tersebut. Maka artinya, menghabiskan seekor sapi selama hidup sangatlah mungkin.

Baca Juga : Identitas itu Perlu Bukti

Kita hanya butuh 1% kebiasaan baik setiap hari

Tahukah anda, untuk membuat kebiasaan baru kita hanya perlu untuk menjadi 1% lebih baik dari hari kemarin?

Data ini diulas oleh James Clear dan dia pun membuat rumus matematikanya. Setelah ini saya akan bahas rumus matematikanya. Bagi Anda yang tidak suka matematika, boleh dibaca boleh tidak. Saya tidak akan memaksa, hehe

  • Kita simbolkan kondisi kita saat ini adalah angka = 1
  • 1% secara desimal = 0.01
  • 1% lebih baik, jika disimbolkan berati 1 + 0.01 = 1.01
  • Dalam setahun ada 365 hari, artinya jika kita lebih baik 1% selama 365 hari = 1.01^365

Kurang lebih kurvanya jadi seperti ini :

https://s3-us-west-2.amazonaws.com/secure.notion-static.com/6af9f3c5-3afa-4650-b718-3318676e456a/1-persen-lebih-baik.jpg

Dari Kurva diatas kita bisa lihat bahwa jika kita melakukan improvement sebesar 1% per hari, akan memberikan dampak yang signifikan jika kita lakukan selama setahun. Kita bisa menjadi 37 kali lebih baik dari saat kita memulai.

Bukan 2 kali lebih baik, tapi 37 kali lebih baik

Kurva diatas juga menjelaskan kebiasaan buruk juga dapat memberikan dampak besar ke dalam diri kita.

Namun, apakah kita tidak boleh melakukan hal buruk sama sekali? Saya tidak setuju soal ini, sesekali kita masih boleh lah. Ingat ya, sesekali. Itu juga dijelaskan pada kurva diatas.

  • Makan mie instan sesekali tidak berdampak pada tubuhmu, kebiasaan makan mie instan setiap hari akan berpengaruh besar.
  • Menunda pekerjaan untuk istirahat sebentar tidak masalah, kebiasaan menunda akan jadi pengaruh besar.

Kata kuncinya ada di kebiasaan. Kebiasaan atau Habit ibarat pisau bermata dua.

Segala sesuatu jika dilakukan secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan maka dampaknya akan eksponensial. Tidak peduli itu kebiasaan buruk atau kebiasaan baik.

Buat Daftar, Cacah, dan ‘Cemilin’ hingga Kebiasaan

Mulai saat ini, mari buat daftar apa saja yang perlu kita selesaikan. Dari daftar tersebut, cacah menjadi bagian kecil-kecil. Lalu kerjakan bagian kecil itu setiap hari atau setiap jam, layaknya orang ngemil. Sedikit-sedikit saja, jangan dihabiskan.

Tapi kalo cemilannya enak, ga ada salahnya sih dihabisin hehe.

Semakin kecil cacahan kita, semakin mudah kita menyelesaikannya. Semakin mudah kita menyelesaikannya artinya kemungkinan kita membuat progres akan makin besar.

Kalau kamu harus ngepel rumah, coba hitung berapa ubin/keramik yang ada pada lantai rumahmu. Katakanlah ada 100 ubin, kamu bisa cacah untuk mengepel 5 ubin per sesi.

Kalau kamu mengepel lantau tiap sesudah sholat 5 waktu, dalam 4 hari tugas mengepel akan selesai.

Biasanya nih ya, saat kamu mengepel akan terasa perasaan “Ah nangguung, 10 (atau) 20 ubin sekalian deh”.

Itu adalah hal wajar, sebelumnya sudah saya bilang ini layaknya ngemil. Kalau belum puas ngemil, biasanya orang akan nambah terus. Sampai suatu titik mereka haus atau lelah mengunyah.

Dalam ilmu fisika ini disebut momentum. Saat kita mendorong mobil, titik paling berat adalah saat memulai. Saat sudah berjalan, akan jauh lebih ringan.

Kesimpulan: Kebiasaan kecil dampaknya besar

Otak kita sering kali membuat sebuah jebakan pikiran seperti: harus selesai hari ini, harus selesai semua, atau harus dikerjakan sendiri. Sering-sering perhatikan antara instruksi dan pikiran di kepala kita.

Kebiasaan bisa memberikan dampak yang eksponensial, artinya hal kecil yang kita kerjakan setiap hariu bisa memberikan dampak yang sangat besar jika dilakukan setiap hari.

Kebiasaan bak pisau bermata dua, mau kebiasaan baik atau buruk keduanya bekerja dengan cara yang sama.

Untuk mulai kebiasaan, cacah dan lakukan sedikit demi sedikit. Seringan mungkin.

Leave a Comment