fbpx

Kesempatan ada dimana-mana, tapi…

Dulu saya adalah orang yang sangat sering mengambil kesempatan yang ada di depan mata.

Teman ngajak jualan online, hayuk.

Jualan jasa design, hayuk.

Jadi penulis freelance, juga hayuk.

Bahkan ada teman saya yang sempat nyeletuk dan menilai saya orang yang sangat oportunis. Semua peluang disikat.

Namun seiring berjalan waktu, saya sadar satu hal: cara yang saya mainkan ini terlalu melelahkan.

Mungkin dulu terasa ringan karena saya masih remaja. Energi dan waktu luang juga cukup banyak.

Saya tidak tau bisa sampai kapan bermain dengan cara ini.

Sekitar 3 tahun lalu, saya mencoba hal baru. Saya mengubah gaya main saya dalam menghadapi kesempatan.

Dari yang biasanya seorang “yes-man”, alias apa-apa ayok aja, menjadi lebih selektif.

Terkadang saya menolak sesuatu yang saya tau jik saya melakukannya kemungkinan berhasilnya besar.

Untuk menolak tawaran besar, jujur saya masih sering ragu juga sih.

Tapi dibanding dulu intensitas menolak saya jauh lebih sering.

Setelah saya jalani, yang mengejutkan, secara penghasilan ternyata tidak jauh berbeda.

Justru sekarang lebih nyaman, karena saya punya waktu lebih banyak. Saya bisa bermain dengan anak dan mengobrol dengan istri lebih sering.

Saya juga punya waktu lebih banyak melakukan hal yang saya suka.

Setelah saya pelajari, mungkin dulu saya terlalu terpaku pada potensi penghasilan.

Tiap ada sesuatu dengan potensi penghasilan tinggi, saya sikat. Tidak peduli saya suka mengerjakannya atau tidak.

Saya siap 100% dengan hasilnya, namun untuk membayar “ongkos” berupa usaha dan dedikasi kerja masih setengah-setengah.

Saya tidak bilang mengerjakan segala kesempatan yang ada itu jelek. Kadang saya sikat juga kok, kalau tidak ada pilihan lain.

Lihat kondisinya. Jika ada pilihan untuk memilih yang lain, kita bisa lebih selektif.

Karena energi kita terbatas juga.

Tapi jika kita cuma punya satu pilihan, yasudah kerjakan.

Ibarat makanan, saya bukan tipe pemilih makanan. Kehidupan mengajarkan saya bahwa saya bisa hidup dari makanan sesederhana apapun.

Tapi kalau saya boleh dan bisa memilih, saya akan pilih steak. Karena itu makanan favorit saya. Saya akan makan tanpa berat hati tentunya.

Kesempatan memang ada dimana-mana, tapi apakah kita mau dan mampu untuk mengerjakannya dan membayar ongkosnya ?

Leave a Comment

twenty − 1 =