fbpx

Jangan Bersinar Lebih dari Atasanmu – Law of Power

Anda pernah merasa selalu dijatuhkan oleh pimpinan Anda?

Atau Anda pernah merasa bahwa saran atau masukan Anda selalu ditolak atasan?

Permasalahan diatas mungkin acap terjadi di perkantoran. Namun tahukah Anda, kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di zaman sekarang saja?

law of power 48
Buku 48 Laws of Power, karya Robert Greene

Ini sudah terjadi sejak zaman Kerajaan Romawi, Kerajaan Prancis, Kekaisaran Jepang, bahkan sampai saat ini. Robert Greene, dalam bukunya yang berjudul 48 Laws of Power, merangkum hal-hal apa saja yang mungkin terjadi pada sebuah kekuasaan.

Dan pada artikel ini saya akan mencoba membahas mengenai hukum pertama yang ditulis dalam buku 48 Laws of Power : Jangan Pernah Menjadi Lebih Cemerlang dari “Sang Master”.

Aturan Pertama, Jangan Pernah Tampil Lebih Bersinar dari Atasan Anda

Didalam buku 48 Laws of Power dijelaskan bahwa semakin kita bisa membuat atasan kita superior dan brilian semakin menguntungkan posisi Anda. Ketika Anda memiliki dorongan untuk menunjukan skill, kemampuan, ataupun prestasi Anda, sebisa mungkin jangan tampil terlalu mencolok bahkan lebih bersinar dari orang yang berada diatas Anda.

Mungkin sebagian dari Anda tentu merasa “kok rasanya tidak adil ya?”. Apa salahnya menunjukan kelebihan kita sendiri?

Tenang dulu, silakan baca tulisan ini sampai akhir. Hehe

Kisah Orang yang “Melanggar” pada Hukum Ini

Kisah Fouquet dari Prancis

Nicolas Fouquet adalah seorang menteri keuangan di era Raja Louis XIV berkuasa. Dia dikenal sebagai pria yang suka pesta, wanita dan kemewahan. Meski demikian, Fouquet juga dinilai sebagai pribadi yang cerdas dan tidak tergantikan peran-nya di mata sang raja.

Pada tahun 1661, perdana menteri kerajaan meninggal dunia. Fouquet karena reputasinya, merasa pantas untuk diunggulkan sebagai Perdana Menteri yang baru. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Raja Louis XIV malah menghapuskan posisi perdana menteri dalam sistem kerajaan.

Setelah kejadian itu, Fouquet merasa butuh untuk mengambil hati raja. Dia pun mengadakan sebuah pesta yang sangat mewah dalam rangka memperingati selesainya pembangunan kastil paling megah yang ia bangun. Dan Fouquet berencana untuk menjadikan raja sebagai ‘Tamu Agung’.

Foto : Nicolas Fouquet. Source: Wikipedia

Pesta diselengarakan dengan mewah dan makanan terlezat disajikan. Bahkan belum ada acara yang pernah diadakan semegah ini. Namun. yang terjadi keesokan harinya Fouquet malah di tangkap oleh pihak kerajaan.

Dia dituduh mencuri harta dari kerjaan, padahal apa yang dituduhkan padanya dilakukan sepengetahuan raja (semacam korupsi berencana). Ironisnya, justru Fouquet mendapatkan tuduhan tersebut juga dari sang raja.

Pengganti dan Ego Sang Raja

Sebelumnya Fouquet mengadakan pesta dengan tujuan untuk menunjukan kepada raja mengenai pengabdian dan kesetiaannya. Ia juga mendemonstrasikan kemewahan untuk menunjukan bahwa ia memiliki selera, koneksi, dan popularitas yang dapat membuatnya menjadi tidak tergantikan bagi sang raja.

Namun ternyata dalam pesta tersebut raja menyadari bahwa kekaguman tamu yang hadir lebih besar ditujukan untuk Fouquet dibandingkan kepada sang Raja. Alih-alih untuk mengambil hati sang raja, pesta ini justru menyinggung keagungan dari raja.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa Raja Louis XIV dikenal sebagai raja yang sombong dan arogan. Dia suka menjadi pusat perhatian. Dan dia sangat tidak menyukai dikalahkan terutama dalam hal kemewahan dan keagungan, termasuk kalah dari sang Menteri Keuangannya sendiri.

Untuk menggantikan posisi Fouquet, sang raja menunjuk Jean-Baptiste Colbert. Seorang yang dikenal karena kesederhanaannya, bahkan ketika membuat pesta selalu membosankan.

Colbert memastikan dana kerjaan akan langsung masuk kepada raja. Dari dana tersebutlah raja membangun istana baru yang megah dan hidup dengan bermewah-mewahan.

Alasan bagaimana ini bisa terjadi

Setiap orang punya rasa insecure. Tingkat insecure setiap orang pun berbeda-beda. Dalam buku 48 Laws of Power dijelaskan bahwa

Ketika kamu menunjukan kemampuan dan talentamu, secara natural akan mendorong segala hal yang berhubungan dengan kebencian (resentment), rasa iri (envy), dan manifestasi lain yang mengarah kepada insecurity.

Lalu ada argumen tandingan : “Hidup terlalu pendek untuk mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain”.

Saya sendiri tidak mau menyangkal pernyataan diatas, tapi saya juga cukup setuju dengan penjelasan di buku tersebut.

Ketika sudah menyangkut kekuasaan, menjadi lebih bersinar dari atasan bisa jadi satu kekuasaan yang besar. Dan tentu akan diikuti dengan konsekuensi yang tidak kalah besar pula.

Dan yang lebih menakutkan, insecurity itu jarang ditunjukan kepada orang lain secara terang-terangan. Orang yang merasa insecure akan cenderung menutupi penyebab insecure-nya.

Mungkin atasan Anda akan berpura-pura memberi apresiasi, lalu ketika datang kesempatan Anda mungkin akan digantikan dengan orang lain yang dirasa lebih cocok. Proses penggantian ini lah yang kadang berbeda-beda. Ada yang digantikan secara baik-baik. Namun ada pula yang diganti dengan cara yang sadis. Seperti bagaimana Fouquet didepak oleh Raja Louis dan digantikan dengan Colbert.

2 Hal yang Harus Diperhatikan

Ada 2 hal yang harus diperhatikan mengenai hal ini

Pertama, Tiap Atasan memiliki Tingkat Insecure yang Berbeda

Anda bisa saja secara tidak sadar ternyata lebih berbakat dan lebih cemerlang dari atasan Anda, tanpa niat untuk menyinggung sama sekali. Bahkan sejak awal Fouquet pun tidak ada niat untuk menyinggung atau menggantikan sang raja.

Sayangnya ada beberapa atasan yang memiliki tingkat insecure yang sangat besar. Anda tidak pernah tau apa yang sudah dialami atasan Anda dari mulai lahir hingga mencapai posisi seperti sekarang.

Nah jika ternyata Anda memiliki bakat, kemampuan, dan talenta yang sangat besar untuk dikagumi yang sangat besar (beberapa orang memang memiliki bakat ini), menurut buku ini ada 2 pilihan yang bisa anda ambil :

  • Pastikan Anda belajar bagaimana cara menghindari orang yang memiliki tingkat insecure yang besar.
  • Coba cari cara untuk meredam pesona, talenta, atau apapun yang Anda miliki saat ini apabila Anda merasa sepertinya Anda sudah terlau bersinar melampaui atasan Anda
  • Kedua, Jangan Pernah Berpikir Kamu Bisa Melakukan Apapun Jika Atasan Menyukai Anda

    Mungkin beberapa dari Anda adalah orang kepercayaan atau tangan kanan dari atasan Anda. Karena sudah sangat percaya, sering kali atasan Anda melakukan hal seperti :

    “Kamu urus ya, aku percayakan ini ke kamu”.

    Dengan kalimat seperti itu, Anda memiliki wewenang yang sama dengan atasan Anda. Dan seringkali orang merasa itu adalah hal yang bagus. Padahal, itu justru bisa jadi justru lebih berbahaya.

    Sering kali ide-ide Anda justru lebih cemerlang dari ide atasan kita. Dan karena wewenang yang Anda miliki saat ini, Anda melakukan banyak perubahan. Mungkin perubahan yang Anda lakukan dampaknya positif bagi perusahaan. Namun bisa jadi itu berbahaya bagi karir Anda sendiri.

    Jadi sebisa mungkin, jika Anda akan memutuskan perubahan yang Anda rasa lebih bagus dari Ide atasan Anda, sampaikan gagasan Anda. Buat seolah Anda membutuhkan atasan Anda untuk berdiskusi, walaupun bisa saja Anda menggunakan wewenang yang Anda miliki saat ini.

    Bahkan jika Anda tau bahwa atasan Anda adalah tipe orang yang gampang insecure, Anda bisa buat gagasan ini seolah miliknya. Atau semacam gagasan ini tidak dapat terwujud tanpa adanya beliau.

    Kesimpulan

    Menurut buku ini, dengan tidak tampil lebih menonjol dibanding atasan Anda itu bukanlah sebuah kelemahan. Bahkan dengan membiarkan orang lain tampil menonjol, Anda akan memegang kontrol dibanding sekedar menjadi korban dari insecurity atasan Anda.

    Beberapa dari Anda yang memiliki mental “rebel” atau “freedom” mungkin akan sulit menerima ini. Selama Anda tau apa risikonya, itu terserah Anda mau berbuat apa.

    Baca Juga : Kebiasaan 1%, Cukup untuk Membuat Kamu Lebih Baik

    Bahkan di buku ini juga disebutkan bahwa “Superioritas” adalah sebuah hal yang menjijikan. Tapi seseorang yang ingin tampil lebih superior dari Pangeran / Raja-nya sendiri bukan hanya hal bodoh, tapi itu kesalahan fatal.

    Ambil yang menurut Anda baik, tinggalkan yang menurut Anda tidak perlu. Terimakasih.

    Leave a Comment